Kajian Terhadap Pelaksanaan Evaluasi Keselamatan Permohonan Persetujuan Eksperimen Pada Reaktor Penelitian di Indonesia

 

KAJIAN TERHADAP PELAKSANAAN EVALUASI KESELAMATAN PERMOHONAN PERSETUJUAN EKSPERIMEN PADA REAKTOR PENELITIAN DI INDONESIA

ABSTRAK

KAJIAN TERHADAP PELAKSANAAN EVALUASI KESELAMATAN PERMOHONAN PERSETUJUAN EKSPERIMEN PADA REAKTOR PENELITIAN DI INDONESIA. Telah dilakukan evaluasi keselamatan terhadap permohonan persetujuan eksperimen pada RSG GA Siwabessy, Reaktor TRIGA 2000. Evaluasi keselamatan ditujukan untuk menjamin bahwa eksperimen yang dilakukan tidak akan memiliki dampak pelepasan zat radioaktif ke pekerja, masyarakat dan lingkungan hidup. Persetujuan ekperimen yang telah diterbitkan pada reaktor TRIGA 2000 adalah persetujuan uji cicip panas. Persetujuan ekperimen yang telah diterbitkan pada RSG GA Siwabessy adalah Persetujuan Tetap Fasilitas Iradiasi Produksi I-125, Persetujuan Tetap Fasilitas Iradiasi Batu Topaz, Persetujuan Pengujian Absorber Ag-In-Cd.

Tujuan kajian terhadap pelaksanaan evaluasi keselamatan permohonan persetujuan ekperimen pada reaktor penelitian adalah untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapi BAPETEN, khususnya Direktorat Perizinan Instalasi dan Bahan Nuklir, dalam  pelaksanaan pengawasan pemanfaatan reaktor penelitian serta solusi agar kegiatan pengawasan tersebut dapat dilakukan secara efektif mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku.

 Kata kunci: Persetujuan Eksperimen, reaktor penelitian.

 ABSTRACT

SAFETY EVALUATION IMPLEMENTATION FOR EXPERIMENT PERMIT OF RESEARCH REACTORS IN INDONESIA. Safety evaluation on application experiment permit at GA Siwabessy reactor and TRIGA 2000 reactor have been done. Safety evaluation in the form of licensing is required to ensured nuclear safety for worker, people and environment from radioactive releases. Experiment permit have been issued by BAPETEN for TRIGA 2000 reactor is hot shipping permit. Experiment permit have been issued by BAPETEN for GA Siwabessy  reactor is permanent irradiation I-125 facility  permit, permanent irradiation Topaz facility  permit, and Absorber Ag-In-Cd Testing Permit.

This paper described the problems which have been faced by BAPETEN, especially the Directorate for License of Nuclear Installations and materials, in controlling the utilization of research  reactor facility and  also the solution to ensure that the implementation can be conducted effectively following the establish requirement.

Keywords: Experiment permit, research reactors.

I. Pendahuluan

Di Indonesia terdapat 3 (tiga) reaktor penelitian yang dimiliki/dioperasikan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), yaitu

  • Reaktor Kartini (100 kW) yang dioperasikan oleh Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan (PTAPB) – BATAN Yogyakarta;
  • Reaktor TRIGA 2000 Bandung (2000 kW) yang dioperasikan oleh Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri (PTNBR) – BATAN Bandung;
  • Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (30 MW) yang dioperasikan oleh Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG) – BATAN Serpong.

Untuk mengoperasikan 3 (tiga) reaktor penelitian pengusaha insatalasi nuklir (organisasi pengoperasi instalasi nuklir) harus memiliki izin, sesuai yang dipersyaratkan dalam Undang-undang No. 10 tahun 1997 Pasal 17 ayat (2) Pembangungan dan pengoperasian reaktor nuklir dan instalasi nuklir lainnya serta dekomisioning reaktor wajib memiliki izin1.

Reaktor penelitian dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan berikut :

(a)     Reaktornya sendiri memproduksi hasil eksperimen;

(b)     Iradiasi cuplikan dan bahan untuk produksi radionuklida;

(c)     Peralatan eksperimen dimasukkan dalam teras atau daerah reflektor dari reaktor;

(d)     Berkas neutron diambil dari teras untuk keperluan eksperimen.

Pemanfaatan reaktor dianalisis keselamatannya dalam Laporan Analisis Keselamatan (LAK). Apabila terdapat eksperimen baru, setiap eksperimen baru harus dinilai kepentingan keselamatannya melalui suatu prosedur yang ditetapkan secara intern. Bila diputuskan bahwa eksperimen ini ternyata menyangkut kepentingan keselamatan yang besar maka usulan eksperimen tersebut harus disampaikan kepada panitia keselamatan (intern) dan BAPETEN untuk dinilai dan disetujui. Kriteria untuk kepentingan keselamatan adalah sama dengan kriteria untuk modifikasi.

Tujuan kajian terhadap pelaksanaan evaluasi keselamatan permohonan persetujuan eksperimen pada reaktor penelitian di Indonesia adalah untuk mengetahui apakah  organisasi pengoperasi telah mematuhi ketentuan yang dikeluarkan oleh BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir). Dalam makalah ini dilakukan kajian terhadap pelaksanaan evaluasi keselamatan permohonan persetujuan eksperimen pada reaktor penelitian di Indonesia khususnya di RSG GA Siwabessy dan Reaktor TRIGA 2000 untuk mengetahui organisasi pengoperasi (PRSG dan PTNBR) telah mengimplementasikan ketentuan/persyaratan dari BAPETEN atau tidak.

II. Bahan

II.1.Peraturan

Pelatihan, kualifikasi dan penerbitan surat izin bekerja petugas reaktor didasarkan pada peraturan sebagai berikut :

  • Undang-undang No. 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran.
  • Peraturan pemerintah No. 43 tahun 2006 tentang Perizinan Reaktor Nuklir
  • Peraturan pemerintah No. 63 tahun 2000 tentang Keselamatan Dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion.
  • Keputusan Kepala Bapeten No. 06/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Pembangunan dan Pengoperasian Reaktor Nuklir.
  • Keputusan Kepala Bapeten No. 10/Ka-Bapeten/VI-99 tentang Ketentuan Keselamatan Operasi Reaktor Penelitian
  • Keputusan Kepala Bapeten No. 05/Ka-Bapeten/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Disain Reaktor Penelitian

II.3. Persyaratan untuk memperoleh persetujuan ekperimen

Persyaratan untuk memperoleh persetujuan ekperimen yang diizinkan adalah sebagai berikut5 :

a. Jika reaktor itu sendiri digunakan untuk memproduksi hasil eksperimen, prosedur harus dibuat untuk menjamin agar kondisi dan batasan operasi terpenuhi.

b. Semua peralatan eksperimen yang berada di dalam atau dihubungkan langsung dengan reaktor harus didesain dengan standar yang sama dengan standar reaktor itu sendiri dan harus benar-benar sesuai dengan bahan yang digunakan, integritas struktur, dan keselamatan radiologi.

c. Jika peralatan eksperimen menembus batas reaktor maka peralatan tersebut didesain sedemikian sehingga dapat melindungi pengungkung dan perisai reaktor.

d. Sistem proteksi pada peralatan eksperimen harus didesain sedemikian sehingga dapat melindungi baik peralatan maupun reaktor dari bahaya yang timbul dari peralatan eksperimen tersebut.

e. Setiap eksperimen baru harus dinilai kepentingan keselamatannya melalui suatu prosedur yang ditetapkan secara intern. Bila diputuskan bahwa eksperimen ini ternyata menyangkut kepentingan keselamatan yang besar maka usulan eksperimen tersebut harus disampaikan kepada panitia keselamatan (intern) dan BAPETEN untuk dinilai dan disetujui. Kriteria untuk kepentingan keselamatan adalah sama dengan kriteria untuk modifikasi, yaitu:

  • Melibatkan perubahan terhadap batasan keselamatan yang disetujui.
  • Melibatkan perubahan terhadap batasan kondisi operasi aman yang disetujui.
  • Mempengaruhi barang yang sangat penting untuk keselamatan.
  • Mengakibatkan bahaya yang berbeda sifatnya atau kemungkinan terjadinya lebih besar dari pada yang dipertimbangkan sebelumnya, atau secara berarti mengurangi margin keselamatan yang ada.

f. Suatu modifikasi yang dilakukan terhadap peralatan eksperimen harus diperlakukan melalui prosedur yang sama dengan prosedur yang digunakan untuk peralatan eksperimen asli.

g. Pemakaian dan penanganan peralatan eksperimen harus dikendalikan dengan prosedur tertulis. Prosedur ini harus memperhitungkan pengaruh eksperimen pada reaktor, terutama perubahan reaktivitas.

h. Pelaksanaan eksperimen harus dioptimasi dengan penekanan pada pengurangan paparan radiasi terhadap personil yang terlibat (ALARA).

II.4.  Permohonan Izin

Permohonan izin diajukan oleh Pengusaha Instalasi Nuklir dengan melampirkan5 :

a. Prosedur untuk mengatur usulan eksperimen. Usulan eksperimen tersebut hendaknya memuat:

  • Uraian tentang tujuan dan maksud pelaksanaan eksperimen;
  • Cara penggabungan peralatan eksperimen dengan sistem reaktor;
  • Pemilihan dan pembenaran ketentuan yang digunakan dalam desain peralatan eksperimen;
  • Pengkajian keselamatan peralatan, baik untuk peralatan itu sendiri maupun pengaruhnya terhadap keselamatan reaktor dan personil;
  • Persyaratan untuk pembuatan dan pengesahan dokumen perawatan dan pengoperasian khusus;
  • Persyaratan untuk pelatihan khusus bagi personil perawatan dan pengoperasi;
  • Persyaratan uji fungsi dan komisioning;
  • Dekomisioning;
  • Program JK yang digunakan;
  • Usulan penanganan limbah radioaktif yang dihasilkan dari eksperimen;
  • Prosedur untuk menjamin komunikasi yang memadai antara operator dan pelaksana eksperimen.

b. Jadwal pelaksanaan rencana pelaksanaan ekperimen

c. Dokumen terkait lainnya

II.5.  Persetujuan Eksperimen

Persetujuan ekperimen dikeluarkan oleh Bapeten setelah dilakukan evaluasi keselamatan dan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan ekperimen tersebut tidak kontraproduktif dengan tujuan keselamatan yaitu tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pekerja, masyarakat  dan lingkungan hidup. Serta pemohon izin dianggap benar-benar mampu melaksanakan ekperimen tersebut dengan aman dan selamat.

III. Permohonan Izin dan Pelaksanaan Evaluasi Keselamatan

III.1. Reaktor TRIGA 2000 Bandung

Uji Cicip

Pada akhir 2004, diketemukan adanya permasalahan timbulnya gelembung dari air tangki reaktor apabila reaktor dioperasikan pada daya tinggi. Oleh karena itu, pada tanggal 15 Januari 2005 BAPETEN membatasi operasi Reaktor TRIGA 2000 Bandung sampai dengan daya 1250 KWt. Dari hasil pemeriksaan lebih lanjut oleh BAPETEN dibantu oleh expert IAEA sepanjang tahun 2005, diketemukan indikasi keberadaan produk fisi di air tangki reaktor. Sehubungan dengan permasalahan tersebut diatas, pada Revisi Izin Operasi No.: 208/IO/DPI/20-I/2003 Rev.1 diberikan kondisi bahwa Reaktor TRIGA 2000 Bandung hanya boleh dioperasikan dalam rangka penyelesaian permasalahan tersebut sampai BAPETEN menyatakan permasalahan tersebut telah dapat diselesaikan.

Dalam rangka menyelesaikan permasalahan tersebut PTNBR mula-mula melakukan uji cicip dingin, yaitu dengan merendam Elemen Bakar satu per satu dalam tabung uji tanpa mengoperasikan reaktor dan kemudian dilakukan pemeriksaan kandungan radionuklida dalam air hasil rendaman. Metode tersebut ternyata tidak dapat diandalkan, sehingga PTNBR kemudian merencanakan untuk melakukan uji cicip panas, yaitu dengan cara yang hampir sama tetap dengan kondisi reaktor dioperasikan. Mengingat adanya potensi dampak keselamatan yang cukup besar dalam pengujian ini, maka diperlukan persetujuan BAPETEN terlebih dahulu.

Permohonan persetujuan uji cicip panas pertama kali disampaikan pada tanggal 5 Juli 2006 melalui surat No.: T-2762/BN.0201/VII/2006 dengan melampirkan:

  • Laporan dan Tindak Lanjut Kegiatan Pendeteksian Kebocoran Elemen Bakar Reaktor TRIGA 2000 Bandung;
  • Prosedur Kerja Pendeteksian Kebocoran Elemen Bakar Dengan Metode Uji Cicip (No. dok.: PK 06 RE 002);
  • Prosedur Kerja Pendeteksian Kebocoran Elemen Bakar Dengan Metode Uji Cicip Panas (No. dok.: PK 06 RE 003); dan
  • Analisis Keselamatan Uji Cicip Panas di Reaktor TRIGA 2000 Bandung.

PTNBR mengharapkan agar persetujuan uji cicip dapat diberikan secepatnya.

Setelah melakukan dua tahapan evaluasi BAPETEN dan perbaikan dokumen oleh PTNBR serta dua kali pertemuan pembahasan antara BAPETEN dan PTNBR, pada tanggal 27 Desember 2006 BAPETEN menerbitkan Persetujuan Uji Cicip Panas No.: 368/SPE/DPIBN/27-XII/2006. Persetujuan Uji Cicip Panas diberikan dengan kondisi:

  • Uji Cicip Panas hanya boleh dilaksanakan dengan daya reaktor tidak melampaui 300 kW;
  • Selama pelaksanaan Uji Cicip Panas, wajib dilaksanakan pengamatan terhadap kemungkinan terjadinya pendidihan pada air dalam tabung uji;
  • Apabila terdapat indikasi adanya pendidihan maka fasilitas wajib menghentikan seluruh kegiatan pengujian dan segera melaporkannya kepada BAPETEN; dan
  • PTNBR diminta menyampaikan jadwal pelaksanaan Uji Cicip Panas.

 III.2. Reaktor Serba Guna G.A. SIWABESSY

Fasilitas Iradiasi Produksi Iodium-125

Dalam rangka produksi I-125, pada tanggal 10 Oktober 2002 PRSG mengajukan permohonan izin iradiasi gas X-124 untuk produksi I-125. BAPETEN secara bertahap memberikan serangkaian persetujuan uji dingin dan persetujuan uji panas. Terakhir, perpanjangan perpanjangan persetujuan uji panas diberikan melalui surat No. 1814/PN 00 03/PIBN/X-05  dengan masa laku 6 (enam) bulan sampai dengan 14 April 2006.

Selanjutnya pada tanggal 26 April 2006, melalui surat No. 601/PN 00 03/PIBN/IV-06  BAPETEN mengingatkan PRSG bahwa Persetujuan Uji Panas Fasilitas Produksi I-125 telah berakhir masa lakunya dan bahwa PRSG diharap segera menyampaikan laporan uji panas Fasilitas Produksi I-125 tersebut. Pada tanggal 21 Juni 2006 melalui surat No. 381/KN 03 01/VI/2006 PRSG mengajukan permohonan persetujuan tetap Fasilitas Produksi I-125 dengan melampirkan laporan uji panas. Setelah melakukan evaluasi, BAPETEN menilai Fasilitas Produksi I-125 tersebut memenuhi persyaratan keselamatan. Pada tanggal 7 Juli 2006 BAPETEN memberikan Persetujuan Tetap Fasilitas Produksi I-125 No. 346/SPE/DPIBN/4-VII-06.

Fasilitas Iradiasi Batu Topaz

Sehubungan dengan permintaan dari Koperasi Pegawai-Warga “DAGSTAN” (KOWABA DAGSTAN) untuk melakukan irradiasi batu topaz di teras RSG-GAS, maka pada tanggal 12 Februari 2004 PRSG mengajukan permohonan izin Irradiasi Batu Topaz. BAPETEN secara bertahap memberikan serangkaian persetujuan uji dingin dan persetujuan uji panas. Terakhir, perpanjangan perpanjangan persetujuan uji panas diberikan melalui surat No. 1872/PN 00 03/PIBN/X-05 dengan masa laku sampai dengan 28 April 2006.

 Selanjutnya pada tanggal 10 Maret 2006 melalui surat No. 161/KN.03.01/III/2006 PRSG  kembali mengajukan permohonan izin tetap Fasilitas Iradiasi Batu Topaz. Setelah melakukan evaluasi terhadap dokumen Kajian Keselamatan Fasilitas Iradiasi Batu Topaz (No. Indent.: RSG.OR.01.02.42.06 rev. 3) dan Laporan Uji Panas Fasilitas Irradiasi Batu Topaz, dan setelah melakukan klarifikasi terhadap jumlah batu topaz yang telah diiradiasi dan jumlah batu topaz yang telah dikirim ke Jerman, BAPETEN menyimpulkan bahwa Fasilitas Irradiasi Batu Topaz tersebut memenuhi persyaratan keselamatan dan bahwa seluruh batu topaz yang diiradiasi dri RSG-GAS akan dikirim oleh KOWABA-DAGSTAN ke Jerman. Pada tanggal 17 April 2006 BAPETEN menerbitkan Persetujuan Tetap Fasilitas Iradiasi Batu Topaz melalui surat No. 512/PN 00 03/PIBN/IV-06 dengan ketentuan bahwa PRSG wajib melaporkan neraca jumlah batu Topaz yang sudah diiradiasi dan yang masih tersimpan di PRSG pada akhir siklus operasi RSG-GAS.

Pengujian Absorber Ag-In-Cd

Dalam rangka penggantian batang absorber RSG-GAS buatan NUKEM (Jerman), pada tanggal 31 Oktober 2005 PRSG mengajukan permohonan izin pengujian absorber Ag-In-Cd buatan PT. BATAN Teknologi dengan melamprirkan LAK Uji Irradiasi Absorber Ag-In-Cd Tipe Garpu di teras RSG-GAS (No. Ident.:TRR.TR.01.04.31.05 rev. 0) dan dokumen pembuatan Absorber Ag-In-Cd dari PT.Batan Teknologi. Mula-mula BAPETEN memberikan Persetujuan Uji Dingin Absorber Ag-In-Cd melalui surat No. 1983A/PN 00 03/PIBN/XI-05 dengan masa laku 6 (enam) bulan sampai dengan tanggal 10 Mei 2006.

Pada tanggal 26 April 2006 melalui surat No. 601/PN 00 03/PIBN/IV-06 BAPETEN mengingatkan bahwa masa laku Persetujuan Uji Dingin Absorber Ag-In-Cd akan berakhir. Selanjutnya, pada tanggal 15 Mei 2006  PRSG meminta perpanjangan izin uji dingin sampai dengan tanggal 25 Mei 2006 karena pelaksanaan kegiatan tersebut belum dapat diselesaikan. Berdasarkan permintaan tersebut, BAPETEN menerbitkan perpanjangan Persetujuan Uji Dingin Absorber Ag-In-Cd sampai dengan 25 Mei 2006 dengan ketentuan bahwa PRSG wajib melaporkan hasil uji dingin.

Pada tanggal 18 Mei 2006 melalui surat No. 317/KN 03 01/V/2006 PRSG mengajukan permohonan persetujuan pengujian absorber Ag-In-Cd dengan menyampaikan LAK Uji Irradiasi Absorber Ag-In-Cd Tipe Garpu di Teras RSG-GAS (No. Ident.:TRR.TR.01.04.31.05 rev. 1) dan Program Uji Panas Absorber Ag-In-Cd Tipe Garpu di Teras RSG-GAS (No. Ident.: RSG.SR.01.04.30.06 rev. 0).

Setelah melalui empat tahapan proses evaluasi oleh BAPETEN, pembahasan antara BAPETEN dan PRSG, serta perbaikan dokumen oleh PRSG, pada akhirnya BAPETEN menilai bahwa kegiatan uji panas absorber Ag-In-Cd tidak menimbulkan dampak yang membahayakan keselamatan radiasi dan kesehatan pekerja, masyarakat dan lingkungan hidup. Dengan demikian pada tanggal 19 Oktober 2006 BAPETEN memberikan persetujuan uji panas absorber Ag-In-Cd No. 365/SPE/DPIBN/19-X/2006 dengan ketentuan:

  • Persetujuan uji panas tersebut hanya berlaku untuk tahap pengujian: 1) uji mekanikal, 2) uji waktu jatuh absorber uji sebelum iradiasi, 3) iradiasi absorber uji ag-in-cd pada daya tinggi, 4) uji waktu jatuh absober uji ag-in-cd pada daya tinggi, 4) uji waktu jatuh absorber uji setelah iradiasi dan 5) pemeriksaan absorber uji secara visual.
  • Sebelum melakukan uji netronik dengan memasang absorber uji menggantikan salah satu batang kendali, PSRG wajib mengajukan permohonan persetujuan insersi dengan menyampaikan laporan hasil uji panas diatas dan jadwal pelaksanaan uji neutronik.

 IV. Permasalahan dan Solusi

Dalam melaksanakan evaluasi keselamatan terhadap permohonan persetujuan ekperimen pada reaktor penelitian ditemukan cukup banyak kendala antara lain:

a. Secara Eksternal:

  • Tanggapan terhadap Laporan Hasil Evaluasi dari para pengguna sangat lambat, dan tidak sesuai dengan rekomendasi, sehingga menghambat proses perizinan. Hambatan yang muncul adalah BAPETEN diharuskan melakukan evaluasi terhadap permohonan persetujuan yang sama berulangkali. Seperti diperlihatkan pada Tabel 1.
  • Dalam rangka mengatasi kendala tersebut, BAPETEN c.q DPIBN mencoba selain melakukan evaluasi pembahasan bersama tim evaluator diadakan pula pembahasan secara teknis dengan pemohon izin dengan mengundang fasilitas dalam hal ini BATAN (PRSG dan PTNBR). Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperoleh tanggapan, dan mengetahui kendala yang berarti dari pemohon izin sehingga mengakibatkan tindaklanjut menjadi begitu lambat serta menyamakan persepsi bersama sehingga kendala-kendala pada pelaksanaan penilaian dan kecukupan dokumen dapat diatasi dengan baik.
  • Pihak pemohon izin seringkali terlambat memperpanjang persetujuan yang telah habis masa lakunya. Dalam rangka mengatasi kendala tersebut, BAPETEN c.q. DPIBN mengirimkan surat teguran.

 b. secara internal:

  • SDM Tim evaluator BAPETEN selain berasal dari DPIBN juga berasal dari unit kerja lain, yang memiliki kesibukan dengan kegiatan di Unit Kerjanya sehingga keterlibatannya tidak optimal. Dalam rangka mengatasi kendala tersebut, BAPETEN c.q DPIBN melakukan upaya dengan peningkatan kualitas SDM dari DPIBN dan membangun komitmen evaluator sehingga memiliki kualitas dan sense of belonging yang baik.

Tabel 1 : Hasil Evaluasi Keselamatan Permohonan Persetujuan Ekperimen di Reaktor Penelitian

No.

Reaktor Penelitian

Permohonan Persetujuan Ekperimen

Hasil Evaluasi Keselamatan

1. Reaktor Triga 2000 Uji Cicip Panas Evaluasi keselamatan dilakukan sejak bulan Juli-Desember 2006.Setelah melakukan dua tahapan evaluasi BAPETEN dan perbaikan dokumen oleh PTNBR serta dua kali pertemuan pembahasan antara BAPETEN dan PTNBR, BAPETEN menerbitkan Persetujuan Uji Cicip panas.
2. RSG GA Siwabessy Fasilitas Iradiasi Produksi Iodium-125  Evaluasi keselamatan dilakukan sejak bulan Oktober 2002 s/d Juli 2006.Setelah melakukan berkali-kali tahapan evaluasi BAPETEN dan perbaikan dokumen oleh PRSG serta pertemuan pembahasan antara BAPETEN dan PRSG, BAPETEN menerbitkan Persetujuan Tetap Fasilitas Iradiasi Produksi I-125.
Fasilitas Iradiasi Batu Topaz  Evaluasi keselamatan dilakukan sejak bulan Februari 2004 s/d April 2006.Setelah melakukan berkali-kali tahapan evaluasi BAPETEN dan perbaikan dokumen oleh PRSG serta pertemuan pembahasan antara BAPETEN dan PRSG, BAPETEN menerbitkan Persetujuan Tetap Fasilitas Iradiasi Batu Topaz.
Pengujian Absorber Ag-In-Cd  Evaluasi keselamatan dilakukan sejak bulan Oktober 2005-Oktober 2006.Setelah melakukan empat tahapan evaluasi BAPETEN dan perbaikan dokumen oleh PTNBR serta  pertemuan pembahasan antara BAPETEN dan PRSG, BAPETEN menerbitkan Persetujuan Pengujian Absorber Ag-In-Cd.

 V. Kesimpulan

Pemberian Persetujuan ekperimen harus memenuhi ketentuan yang dikeluarkan oleh BAPETEN, terutama bagi ekperimen yang memiliki kriteria:

  • Melibatkan perubahan terhadap batasan keselamatan yang disetujui.
  • Melibatkan perubahan terhadap batasan kondisi operasi aman yang disetujui.
  • Mempengaruhi barang yang sangat penting untuk keselamatan.
  • Mengakibatkan bahaya yang berbeda sifatnya atau kemungkinan terjadinya lebih besar dari pada yang dipertimbangkan sebelumnya, atau secara berarti mengurangi margin keselamatan yang ada.

Dari hasil evaluasi keselamatan dapat disimpulkan bahwa organisasi pengoperasi reaktor TRIGA 2000 dan RSG GA Siwabessy telah mematuhi ketentuan yang diberlakukan oleh Bapeten dalam melaksanakan ekperimen yang memerlukan persetujuan BAPETEN tersebut. Akan tetapi dalam melaksanakan pemenuhan ketentuan BAPETEN tersebut kerapkali BAPETEN perlu melakukan evaluasi keselamatan sehingga organisasi pengoperasi dapat membuktikan bahwa ekperimen tersebut aman bagi pekerja, masyarakat dan lingkungan hidup.

 VI.  Daftar Acuan

  1. Undang-undang No. 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran.
  2. Peraturan pemerintah No. 43 tahun 2006 tentang Perizinan Reaktor Nuklir
  3. Peraturan pemerintah No. 63 tahun 2000 tentang Keselamatan Dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion.
  4. Keputusan Kepala Bapeten No. 06/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Pembangunan dan Pengoperasian Reaktor Nuklir.
  5. Keputusan Kepala Bapeten No. 10/Ka-Bapeten/VI-99 tentang Ketentuan Keselamatan Operasi Reaktor Penelitian
  6. .Keputusan Kepala Bapeten No. 05/Ka-Bapeten/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Disain Reaktor Penelitian
  7. Dokumen perizinan pemanfaatan bahan nuklir

 

About teteh ai

hi~ i am ai now i am a student in KAIST with major nuclear engineering, i also still officially work for Nuclear Energy Regulatory Body in Indonesia, ...lets go nuclear!!
This entry was posted in Nuclear Safety Assesment and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s